Breaking News

Pemimpin Cerdas Lahir dari Pemilih yang Sehat

Foto: Edi Irawan, S.Sos. alumni Sosiologi Agama UIN Mataram, Voice NTB.

VOICE NTB,- Desa Mertak Tombok, salah satu desa di Kecamatan Praya, belakangan menjadi topik hangat menjelang Pilkades. Desa ini mencatat jumlah bakal calon paling banyak di Lombok Tengah. Namun pada akhirnya hanya lima calon yang lolos berkas dan maju menjadi calon kepala desa. 

Dalam hal ini menjadi kelebihan tersendiri karena begitu banyak masyarakat yang mau berpartisipasi untuk kepentingan masyarakat luas. Namun perlu juga kita melihat dampak yang akan terjadi ketika hal tersebut tidak mampu dikontrol dengan baik karena akan mengakibatkan perselisihan jangka panjang antar pendukung calon. 

Kita perlu memandang proses pemilihan ini dengan wawasan yang luas. Setiap orang memiliki kepentingan, dan setiap kepentingan membawa konsekuensi.

Menurut teori Joseph A. Schlesinger, keputusan seseorang untuk mencalonkan diri tidak semata-mata berasal dari keinginan pribadi. Keputusan itu juga dipengaruhi oleh struktur peluang politik (opportunity structure), seperti ketersediaan jabatan, tingkat persaingan, dukungan politik, sumber daya, dan kemungkinan memperoleh jabatan yang lebih tinggi.

Pemilihan kepala desa Mertak Tombok perlu dilihat secara terbuka karena setiap tindakan dan pilihan akan melahirkan dampak jangka panjang. 

Ada tiga variabel penting yang harus diperhatikan ketika memilih pemimpin adalah:

Kepentingan pribadi: misalnya ingin menaikkan reputasi, mencatatkan nama sebagai kepala desa, memperoleh jabatan, pengaruh, penghormatan, atau mengembangkan karier.

Ambisi politik: keputusan untuk mencalonkan diri, mencalonkan kembali, atau mengejar jabatan yang lebih tinggi. Ambisi politik tidak selalu sederhana; dengan ambisi yang sehat, seorang pemimpin bisa berperilaku baik, bijaksana, adil, dan membuat masyarakat merasakan kehadiran pemerintahan.

Motivasi politik: misalnya ingin memperbaiki pelayanan, membangun desa, membantu masyarakat, atau mempertahankan program yang sudah berjalan.

Dam setiap variabel akan melahirkan gaya kepemimpinan. Kita mampu melihat pemimpin kedepannya ketika kita dapat mampu membuka peluang dan membuka wawasan.

Dengan memperluas pandangan dan menciptakan peluang bagi pemilih untuk menilai calon secara menyeluruh, kita dapat menentukan pemimpin ideal yang diharapkan masyarakat. Sikap ini membantu kita tidak mudah terpancing emosi ketika berbeda pilihan dengan lainnya, mengurangi praktik politik uang, dan menjadikan Pilkades sebagai kesempatan menentukan masa depan bersama. 

Berhentilah beranggapan bahwa pemilihan pemimpin tak berdampak. Siapapun yang terpilih akan memengaruhi kehidupan kita sehari-hari. setiap kebijakan memengaruhi apa yang kita makan, rasakan, dan alami. Tidak ada elemen masyarakat yang luput dari dampak akibat salah memilih pemimpin.

Pemimpin yang baik mampu menjadikan dirinya dan masyarakat seperti sistem tubuh manusia, setiap elemen memiliki fungsi, dan setiap fungsi menjalankan tugasnya.

Dalam teori struktural-fungsional, terdapat keterkaitan antarindividu tindakan satu orang berdampak pada orang lain. Salah memilih pemimpin akan membawa konsekuensi besar bagi keseluruhan sistem sosial.

Jangan memilih pemimpin karena rasa kasihan, hubungan keluarga, atau balas budi, carilah pemimpin berdasarkan kompetensi, keadilan, dan kelayakan.

Ketidakmampuan lebih berbahaya daripada pembunuhan. seorang pembunuh mungkin membunuh satu orang, tetapi ketidakmampuan atau inkompeten dapat merugikan ribuan orang melalui keputusan yang tidak berbasis kemampuan. Jangan sampai masalah muncul di masyarakat lalu masyarakat sendiri yang disuruh mencari solusi oleh mereka yang kita gaji mencari solusi.



#pilkades #lombok #ntb

© Copyright 2023 - VOICE NTB
Voice NTB Channel

Kepo channel di